Wednesday, November 12, 2008
Beasiswa Program S2 ITB Perioda 2008/2009 Gelombang II
0 komentar Diposkan oleh Novi Reandy Sasmita di Wednesday, November 12, 2008Skema Umum dan Skema Beasiswa Unggulan 2008 BPKLN Depdiknas
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Bpk. Adis Suwardi (adis@lskk.ee.itb.ac.id)
Ibu Yati Suyati (yati@lskk.ee.itb.ac.id )
LabTek VIII Lt. 2
Lab. Sistem Kendali dan Komputer - Insititut Teknologi Bandung
Jl Ganesa 10 Bandung
Telp/Fax.: 022-2500960/ 022-2534217
Program Kerjasama dengan SEAMEO/SEAMOLEC.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Bpk. Khalid Mustafa (SEAMO/SEAMOLEC, secretariat@seamolec.org )
Komplek UT, Jl. Cabe Raya, Pondok Cabe, Pamulang, Jakarta 15418
Telp/Fax.: 021-7422184, 7423725,7424154 / 021-7422276
Label: Beasiswa
Aku bertanya pada Bunda, bagaimana memilih Lelaki Sejati ?
Bunda menjawa
b, Nak..........
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat
bekerja,
Tetapi dari bagaimana dia dihormati di dalam rumah
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yg memuja,
Tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan,
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca
Saran ku :
Ikhwan : Tetap jadi yang terbaik dengan sikap laki-laki sejati
Akhwat : Jangan salah pilih
Label: Artikel
Monday, November 10, 2008
Aku Menanti Dirimu Saudaraku...
3 komentar Diposkan oleh Novi Reandy Sasmita di Monday, November 10, 2008
n tanpa alasan, tapi aku mencoba memberikan yang terbaik buat Aceh, buat UNSYIAH, buat orang tuaku. ini adalah kenangan ku saat mengikuti Kompetisi karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup (KKTM-LH) yang diadakan oleh DIKTI dari 31-2 November 2008.Semoga foto-foto ini memberikan kita inspirasi dan motivasi agar kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hal prestasi menulis.
aku, rian mengundang semua orang yang ingin berprestasi, yang ingin mengukir peta kehidupan dengan sepercik langkah kesuksesan.
Mari aku menunggu kalian saudaraku, aneuk-aneuk nanggroe. Mari kita ukir tinta emas untuk tanah rencong, tanah keliharan kita; Aceh dan UNSYIAH.
Label: Tentang Ku
Mengenal Islam Dalam 30 Menit
0 komentar Diposkan oleh Novi Reandy Sasmita di Monday, November 10, 2008
, karena Rasulullah pernah didatangi seorang Badui yang bertanya tentang Islam tanpa turun dari kudanya, dan orang Badui itu kemudian kembali ke kaumnya sebagai da'i. Rasulullah juga pernah dengan tiga alinea menerangkan IslamSetiap agama yang ada, setiap organisasi, bahkan setiap negara, selalu memiliki asas pokok, yang akan menentukan tujuan yang harus dicapai serta langkah-langkah yang akan ditempuh, yang merupakan "Anggaran Dasar" bagi anggota atau pengikutnya.
Barang siapa ingin memasuki salah satu "organisasi" tadi, yang harus dilakukan pertama-tama adalah mempelajari "Anggaran Dasar"-nya. Kalau sesuai dengan jalan pikirannya dan yakin kebenarannya (tanpa keraguan), maka ia boleh mendaftar menjadi "anggota", dengan segala hak dan kewajibannya. Pokoknya bila sudah masuk, ia harus berbuat untuk "organisasi" dengan penuh keikhlasan, guna menunjukkan loyalitasnya, termasuk selalu menjaga nama baik "organisasi", dan tidak mengerjakan pekerjaan yang bertentangan dengan asas dan peraturan "organisasi".
Demikian juga Islam. Siapa yang ingin masuk Islam, pertama-tama ia harus menerima asas-asas aqliyah (asas-asas yang bisa diterima nalar) untuk kemudian menjadikannya sebagai keyakinan dasar (aqidah)
Keyakinan Dasar Dengan Nalar
Bila kita perhatikan, setiap benda di alam ini selalu memiliki awal atau selalu tergantung pada yang lain. Akal sehat kita mengatakan, bahwa kalau demikian tentu ada "sesuatu yang paling awal", yang tidak tergantung pada yang lain lagi. "Sesuatu" ini haruslah yang menciptakan semua yang lain, dan menjadikan semua yang lain itu tergantung padanya, atau pada keteraturan alam yang diciptakannya. Dan untuk itu "pencipta awal" ini tidak boleh sama dengan semua yang diciptakannya. Sang Pencipta inilah yang dalam konsep Islam disebut "Tuhan". Tuhan dalam konsep Islam adalah yang menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya, beserta segenap keteraturan di dalamnya. Dia tak tergantung pada apapun yang ia ciptakan, tak tergantung pada ruang dan waktu, dan karenanya memiliki kehendak mutlak. Apapun yang Dia inginkan, pasti terjadi.
Sesungguhnya setiap manusia juga memiliki naluri "membutuhkan Tuhan", walaupun tanpa konsep yang jelas. Dalam kondisi terjepit, atau dalam keadaan penuh dilemma, manusia membutuhkan "keajaiban" atau "cahaya" yang akan melepaskannya dari kesulitannya itu.
Tapi walaupun akal dan naluri manusia mengatakan Tuhan itu harus ada, namun Tuhan tidak bisa kita deteksi dengan panca-indera kita, karena Tuhan berbeda dengan semua ciptaan. Dia supra natural. Kita tidak mungkin mengenal Tuhan bila tidak Tuhan sendiri yang mengenalkan diri-Nya pada kita. Keadaan ini seperti kenyataan, bahwa setiap dari kita yakin punya seorang ibu, tapi bila ibu kita tidak mengenalkan dirinya, mustahil kita tahu, siapa ibu kita sesungguhnya, apalagi tahu apa keinginannya.
Tuhan mengenalkan dirinya dengan perantaraan seorang utusan. Utusan ini harus membawa suatu bukti, bahwa ia benar-benar utusan Tuhan. Dan kita hanya bisa yakin, bahwa bukti yang dibawanya memang dari Tuhan, bila hanya Tuhan yang mampu menciptakan bukti tersebut.
Salah satu utusan Tuhan (dan utusan yang terakhir) adalah Muhammad anak Abdullah, yang hidup di Makkah kira-kira tahun 571-632 Masehi. Bukti yang dia bawa adalah sebuah bacaan (Al-Qur'an). Bacaan ini ada dalam bahasa Arab dengan susunan kata yang sangat indah, yang berbeda dengan bacaan Arab yang pernah ada di manapun di dunia. Hanya ada tiga kemungkinan siapa yang menciptakan Al-Qur'an: satu: Muhammad sendiri; dua: orang-orang yang mengenal bahasa Arab; tiga: Tuhan, yakni Allah - seperti yang dikatakan oleh Muhammad sendiri.
Kemungkinan pertama ditolak, karena Muhammad adalah seorang yang buta sastra. Tidak mungkin seorang yatim piatu yang masa kecilnya cuma jadi gembala, dan tidak pernah mengenyam pendidikan sastra, bisa menulis suatu karya sastra seindah itu. Selain itu, bahasa Al-Qur'an sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai Muhammad di dalam wejangan-wejangannya (yang kita kenal sebagai hadits). Tidak mungkin seorang merubah gaya bahasanya secara teratur dan rapi dalam kurun waktu hampir 23 tahun.
Kemungkinan kedua juga ditolak, karena di dalam Al-Quran sendiri ada tantangan, agar orang-orang Arab membuat bacaan saingan. Dan tantangan itu, hingga hari ini tidak pernah bisa dipenuhi. Maka tak ada kemungkinan lain, selain Al-Quran itu adalah ciptaan Allah, yang diwahyukan Allah pada Muhammad untuk menjadi bukti bahwa dia seorang utusan Allah, seorang pembawa ajaran atau risalah (sehingga disebut Rasul) dan seorang yang menyampaikan apa-apa yang akan terjadi di masa depan, baik masa depan yang "dekat", maupun masa depan yang "jauh" - yakni hari kiamat, dan apa yang terjadi di akherat. Karena menyampaikan "ramalan" atau nubuwwat ini, maka ia disebut Nabi.
Setelah yakin
Setelah kita yakin akan adanya Tuhan (Allah), dan yakin bahwa Allah mewahyukan bacaan (Al-Qur'an), maka konsekuensinya, kita harus yakin bahwa apa yang ada di Al-Qur'an adalah benar, karena semua datang dari Allah, Yang menciptakan semua mahluq (termasuk manusia), Yang menentukan sifat-sifatnya, dan Maha Tahu atas segala yang terjadi di masa lalu maupun yang akan terjadi di masa datang.
Hal ini seperti seorang pasien yang yakin pada keahlian dokter spesialisnya, sehingga percaya apa kata dokter itu, serta menuruti semua nasehatnya, bila ia ingin sembuh. Atau seperti seorang ahli nuklir yang yakin kebenaran detektor nuklirnya, sehingga harus segera berbuat sesuatu bila detektor itu mencatat suatu harga radiasi, meskipun dia tidak melihat radiasi itu. Keyakinan akan alat-alat ini pula yang membuat seorang astronom percaya adanya galaksi, atau seorang geolog percaya ada minyak di kedalaman ribuan meter di bawah tanah, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus di masa lampau.
Iman
Bagi seorang muslim, alat tersebut adalah Al-Qur'an. Dari Al-Qur'an seorang muslim tahu sifat-sifat Allah, tahu untuk apa ia menciptakan manusia, sehingga tahu pula apa yang diperintahkan Allah pada manusia; pula tahu bahwa Allah menciptakan mahluk halus yang bernama malaikat, jin dan iblis, tahu bahwa sebelum Muhammad Allah pernah menurunkan Nabi dan Rasul pada setiap bangsa, seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dsb, tahu keadaan, mukjizat serta kitab-kitab yang diberikan Allah pada mereka; juga tahu akan datangnya hari kiamat sebagai hari pembalasan, termasuk adanya surga dan neraka; juga tahu adanya nasib dan taqdir yang ditentukan Allah atas seluruh mahluknya, meskipun tiap manusia diberi akal dan dalam batas tertentu memiliki kemerdekaan memilih. Semua hal ini disebut dengan rukun iman. Jadi, iman dalam agama Islam adalah suatu hal yang dipercaya karena adanya keyakinan dasar, yang dibangun lewat nalar.
Iman itu ada di dalam hati. Sedang manusia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hati. Karena itu, seorang yang beriman harus mengumumkan keimanannya dengan membuat suatu kesaksian. Kesaksian ini disebut syahadat.
Asyhadu alla ilaa ha illallah -
Wa asy hadu anna Muhammadar rasulullah.
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah"
Dengan demikian, orang itu resmi menjadi muslim, dengan segala hak dan kewajibannya di masyarakat.
Islam
Setelah syahadat, maka ia terkena kewajiban berikut: Pertama, Shalat, yaitu cara bersyukur, mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah. Sebelumnya ia harus bersuci (wudhu atau mandi bila perlu). Shalat yang wajib ada 5 kali sehari, shubuh sebelum matahari terbit sebanyak 2 rakaat, Dhuhur setelah tengah hari: 4 rakaat, Ashar setelah matahari miring: 4 rakaat, Magrib setelah matahari terbenam: 3 rakaat, dan Isya di awal malam: 4 rakaat. Setiap shalat paling cuma perlu waktu sekitar 5 menit. Shalat bisa dilakukan di mana saja, asal bersih dari najis. Ibadah seorang muslim kepada Tuhannya dilakukan langsung, tanpa perantara.
Kedua: selama sebulan tertentu, seorang muslim mempercepat sarapan paginya ke akhir malam (sebelum fajar), dan memperlambat makan siangnya hingga terbenam matahari. Siang hari tidak makan, minum, merokok atau bercampur dengan istrinya. Jadilah bulan itu bulan latihan, bulan pembersihan jiwa, pengistirahatan pencernaan dan peningkatan kesehatan. Inilah bulan puasa Ramadhan.
Ketiga: apabila ia telah punya penghasilan sendiri, dan berlebih untuk keperluan pokok pribadi dan keluarganya, dan mencapai jumlah minimal tertentu, maka ia wajib mengeluarkan 2,5% untuk dibagikan kepada fakir-miskin dan orang-orang yang berhak menerima. Baginya itu tidak akan memberatkan, hartanya justru akan dilipatgandakan oleh Allah, karena ia melakukan solidaritas sosial. Inilah zakat
Keempat: agama mengatur pertemuan rutin bagi masyarakat muslim. Lima kali sehari setiap shalat wajib, bisa dilakukan bersama (shalat jama'ah) dalam serumah atau sekantor. Walau tiap pertemuan mungkin hanya seperempat jam, dan tidak akan mengganggu jam kerja, namun manfaatnya dalam menjaga tali persaudaraan sangat luar biasa. Kemudian pertemuan "se-desa" yang harus dilakukan lelaki dewasa seminggu sekali, yakni shalat Jum'at. Lalu di tingkat kota setahun dua kali, yakni shalat Ied (hari raya Fitri dan hari raya Qurban). Sesudah itu ada pertemuan akbar sedunia, yang setiap muslim hanya diwajibkan sekali seumur hidupnya, bila ia mampu. Inilah yang dinamakan ibadah haji.
Inilah sejumlah ibadat pokok. Di samping itu, yang termasuk ibadat adalah semua hal yang dilakukan secara sadar dengan memperhatikan halal (boleh) dan haram (terlarang) dalam islam. Makan minum, olahraga, menuntut ilmu, bekerja cari uang, berbicara dengan orang, bahkan hubungan sex pun bisa jadi ibadah, asal memperhatikan halal-haramnya.
Jika seorang muslim terlanjur melanggar larangan Allah, atau tidak penuh melaksanakan kewajibannya, lalu sadar kekeliruannya dan bertaubat, maka Allah akan mengampuninya. Bila ia tidak bertaubat, maka ia tetap diakui sebagai muslim, tapi muslim yang ingkar dan berdosa, dan pantas mendapat azab di akherat. Namun azabnya tidak kekal seperti pada seorang kafir. Seorang kafir adalah yang mengingkari dasar aqidah, meragukan kebenarannya atau menentang peraturan Islam yang telah disepakati. Seorang muslim yang kembali kafir akan disebut murtad. Sedang seorang yang hanya pura-pura muslim, mungkin juga pura-pura syahadat, shalat bahkan naik haji, tapi semua ini hanya kedok untuk merusak ummat Islam, maka ia disebut munafiq. Orang munafiq tempatnya nanti ada di dasar neraka.
Ihsan
Jika seseorang sudah mengerjakan rukun Iman dan rukun Islam tadi, maka ia adalah muslim-mukmin. Akan tetapi buah dari iman belum akan ia rasakan. Dia belum akan menjadi muslim yang sempurna sebelum menjalani kehidupan sebagai muslim yang mukmin, yakni selalu ingat dan sadar, baik di waktu berdiri ataupun duduk, waktu seorang diri ataupun di tempat ramai, di semua keadaan dan situasi, bahwa Allah selalu memperhatikannya. Seorang muslim tidak berbuat maksiat, karena ia yakin Allah selalu melihatnya, ia tidak takut pada siapapun, dan tidak pernah putus asa, karena tahu Allah bersamanya. Tiap ada rejeki, dia tak terus lupa diri, dan tiap ada bencana, dia tidak berprasangka buruk pada Allah.
Engkau sembah Allah seolah engkau melihat-Nya, jikapun engkau tidak melihat-Nya, namun Dia tetap melihatmu.
Label: Artikel
Fitrah Manusia
Manusia Mencari Hakekat Hidupnya
Manusia yang telah terpenuhi kebu¬tuhan eksistensialnya akan mulai mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia memiliki kebe¬basan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non naluriahnya, manu¬sia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilaku¬kannya dalam rangka memper¬tahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya). Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidu¬pan manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai kepuasan ruhaninya.
Manusia Membutuhkan Tuhan
Dalam kondisi gawat yang meng¬ancam eksistensinya (misalnya ter¬hempas ombak di tengah samudra, sementara pertolongan hampir musta¬hil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.
Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya ber¬beda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipe¬gangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa di¬percayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu. Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari "sesembahan". Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, "sesembahan" itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.
Tanda-Tanda Eksistensi Tuhan
Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya membuatnya bertanya, "Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat se¬milyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum-hu¬kum alam bisa seteratur ini". Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada "sesembahan" mereka setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu memberikan ja¬waban, mengapa semua bisa terjadi.
Ilmu alam yang pokok penye¬lidikannya materi, tak mampu men¬dapatkan jawaban itu pada alam, ka¬rena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski be-berapa saat setelah kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi keteraturan yang mem¬buat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga jasad itu mulai mem¬busuk.
Bila di masa lalu, orang mengem¬balikan setiap fenomena alam pada suatu "sesembahan" (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa pasti ada "sesuatu" yang di be¬lakang itu semua, "sesuatu" yang di belakang dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, "sesuatu" yang di bela¬kang semua hukum alam.
"Sesuatu" itu, bila memiliki sifat-sifat ini:
- Maha Kuasa
- Tidak tergantung pada yang lain
- Tak dibatasi ruang dan waktu
- Memiliki keinginan yang absolut
Tuhan Berkomunikasi Via Utusan
Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manu¬sia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin memikirkan sedikit dari "jejak-jejak" eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah percuma, memikirkan se¬suatu yang di luar "perspektif" kita.
Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau "memperkenalkan" diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan benar. Ada manusia yang "disapa" Tuhan un¬tuk dirinya sendiri, namun ada juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena ke-banyakan manusia memang tidak siap untuk "disapa" oleh Tuhan.
Utusan Tuhan Dibekali Tanda-Tanda
Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda yang cuma bisa berasal dari Tu¬han. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal yang sebelumnya tidak mung¬kin diketahuinya dari sekedar meng¬amati alam semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji, apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.
Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, ten¬tunya ia telah menguji avo¬meternya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus me¬nerima apa adanya, bila instrumen ter¬sebut mengabarkan jumlah radiasi yang melebihi batas, sehingga misal¬nya reaktor nuklirnya harus segera di¬matikan dulu.
Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke zaman purba.
Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut "iman". Sebenarnya tak ada bedanya, antara "iman" pada au¬tentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan "iman"-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil se¬hingga tidak bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa di¬percaya.
Menguji Autentitas Tanda-Tanda Dari Tuhan
Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keung¬gulan absolut, yang hanya dimungkin-kan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan sendiri). Sesuai dengan za¬mannya, keunggulan tadi tidak tertan¬dingi oleh peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu sebagai keah¬liannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!
Pada zaman Nabi Musa, ketika il¬mu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang diberi keunggulan menga-lahkan semua ahli sihir, justru menga¬takan bahwa ia tidak belajar sihir, na¬mun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.
Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, meski masyarakat-nya merupakan yang termaju dalam ilmu pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib. Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesu-sasteraan Arab, tempat para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan mes¬ki pada saat itu semua orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Mu¬hammad hanya mengatakan, ayat itu bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.
Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pe¬sat, terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.
Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi au¬tentitasnya. Meski mereka:
- orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuk¬sesannya;
- menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang lazim di masyarakatnya
Konsekuensi Setelah Meyakini Au¬tentitas Tanda-Tanda Kenabian Muhammad
Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang te¬ruji autentis berasal dari Muhammad. Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.
Label: Artikel
“Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya…” (QS Al mu’min : 60).
“Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah pasti akan datang, maka janganlah kalian minta untuk disegerakan.” (QS An Nahl : 1).
Allah Maha Mengetahui kapan sesuatu pas untuk kita, baik dalam sisi timing maupun momentnya. Allah, Pencipta alam raya ini, adalah sutradara hebat, yang tidak akan membiarkan kita terpuruk dalam keburukan. Selama kita yakin akan kekuasaan-Nya, yakin akan kasih sayang-Nya. Jika semua serasa seperti biasanya, tak ada kemajuan berarti. Tetaplah juga tersenyum. Allah punya cara sendiri untuk membuat kita senantiasa dekat dengan-Nya. Mungkin, semua ini dibuat-Nya untuk kita agar kita senantiasa hanyut dalam sujud-sujud panjang di penghujung malam. Senantiasa larut dalam tangis penuh harap, dalam buaian doa-doa panjang nan khuyuk.
Semua tak akan tersia-sia begitu saja. Allah, mencatat setiap upaya yang kita lakukan dan doa yang kita panjatkan. Segala sesuatu yang kita perbuat, sekecil apa pun itu, akan menuai balasan di sisi-Nya kelak. Niatkan semuanya hanya untuk meraih ridha-Nya, agar perjuangan hebat ini tak hanya bermakna sementara. Insya Allah kita akan memetik buahnya kelak, di waktu yang telah Ia tentukan.
Dunia ini fana. Tak ada yang kekal didalamnya. Pun perjuangan ini, pengorbanan ini, juga kesulitan ini. InsyaAllah, suatu hari nanti, harapan akan berbuah kebahagiaan. Akan menjelma menjadi kemudahan. Karena, sekali lagi, Allah telah menjamin:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah : 5)
Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Tetaplah berharap sepenuh hati kepada-Nya. Tetaplah gantungkan asa setinggi apa pun itu, hanya kepada-Nya. Sekali lagi, hanya kepada-Nya.
“Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A’raf : 56)
“…Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusu f: 87).
Dan, jika akhirnya harapan tidak menjelma seperti yang kita idamkan, tetaplah terus berbaik sangka kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Karena,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216).
Teruslah berjuang. Demi sebuah azzam yang dipancangkan untuk meraih ridho Ilahi Robbi.
Wallohua’lam bishshowwab.
Label: Artikel
Wednesday, October 22, 2008
Lomba Menulis Cerpen Berlatar Jakarta
1 komentar Diposkan oleh Novi Reandy Sasmita di Wednesday, October 22, 2008Dasar Pemikiran
Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya –yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia— memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama budaya untuk memperkenalkan Indonesia ke pentas dunia.Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, Jakarta dengan berbagai kekayaan kebudayaannya, keberagaman masyarakatnya, percepatan pembangunannya, dan latar geografik dan latar alamnya yang memancarkan perpaduan modernisme dan eksotisme, telah sejak lama menjadi lahan garapan para sastrawan Indonesia, bahkan juga sastrawan dari mancanegara. Kini, selepas memasuki alaf baru dan zaman ingar-bingar reformasi, sejauh manakah Jakarta masih memancarkan pesonanya, auranya yang menyebarkan daya tarik, dan semangat yang merepresentasikan keindonesiaan.
Dalam kaitan itulah, lomba penulisan cerita pendek berlatar atau bertema tentang Jakarta, akan menawarkan catatan estetik yang khas, sekaligus juga universal dalam sebuah kemasan karya sastra. Maka, karya itu hadir sebagai totalitas kreativitas pengarang. Tanpa itu, latar atau tema Jakarta hanya akan menjadi sesuatu yang artifisial, tempelan, dan tidak menyodorkan ruh Jakarta sebagai representasi keindonesiaan.
Tema
Cinta, kemanusiaan, dan persahabatan.
Deskripsi Latar
Mampu menggambarkan Jakarta sebagai pintu masuk memahami kekayaan budaya dan masyarakat Indonesia dalam menerima dan berhadapan dengan urbanisasi, kosmopolitanisasi dan globalisasi peradaban dunia.
Tujuan Kegiatan
Mengenalkan lebih dekat Jakarta sebagai kota budaya dan wisata dengan berbagai kekayaan hasil peninggalan sejarah dan cipta budayanya kepada masyarakat dunia.
Mempromosikan Jakarta sebagai daerah tujuan wisata dan tempat yang menarik untuk latar penulisan karya-karya sastra dan produksi karya seni lainnya.
Ketentuan Umum
- Lomba ini terbuka bagi warga dunia (warga Indonesia dan warga asing)
- Biodata dan alamat lengkap (termasuk nomor telepon, ponsel, dan e-mail) disertakan di luar naskah lomba.
- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah lomba.
- Naskah lomba belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
- Naskah lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dan merupakan karya asli.
- Naskah lomba dikirim kepada Panitia sebanyak 5 (lima) kopi, disertai CD atau flash disk berisi file naskah, selambat-lambatnya tanggal 10 November 2008 (stempel pos).
- Di sebelah kiri amplop hendaknya ditulis "Lomba Menulis Cerpen JILFets 2008".
- Naskah lomba dialamatkan kepada:
Sekretariat Panitia Lomba Menulis Cerpen
Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008
Gedung Nyi Ageng Serang Lantai 6
Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Indonesia.
Ketentuan Khusus
- Penjabaran tema dalam cerita dan penggambaran latarnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
- Panjang karangan antara 8.000-15.000 karakter (with space), atau 4-8 halaman ketik 1,5 spasi, kertas ukuran A4 dengan huruf standar (Times New Roman, 12).
- Peserta lomba adalah perseorangan, bukan kelompok.
- Merupakan karya asli, bukan terjemahan ataupun saduran. Penjiplakan atas karya orang lain dalam bentuk apa pun, tidak dibenarkan, dan panitia berhak membatalkan keikutsertaannya dalam lomba ini.
- Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat.
Ketentuan Lain
- Pengumuman Lomba dan penyerahan hadiah akan diselenggarakan pada acara khusus dalam rangkaian JILFest 2008.
- Juara 1—3 akan diundang untuk mengikuti JILFest 2008 di Jakarta.
- Hak Cipta ada pada pengarang.
- Sebanyak 20 cerpen pilihan berikut karya para pemenang akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan diupayakan akan diluncurkan serta didiskusikan dalam JILFest 2008 di Jakarta.
- Panitia berhak mengedit kesalahan pengetikan dalam cerpen.
Hadiah dan Honorarium
• Juara 1 Rp 5.000.000,00
• Juara 2 Rp 4.000.000,00
• Juara 3 Rp 3.000.000,00
• Juara Harapan 1 Rp 2.500.000,00
• Juara Harapan 2 Rp 2.000.000,00
• Juara Harapan 3 Rp 1.500.000,00
• Penghargaan untuk 20 cerpen pilihan berupa honor yang layak bagi penulisnya.
Keterangan Lain:
Juara 1—3 akan diundang ke Jakarta atas biaya Panitia (tiket, akomodasi, dan konsumsi). Keterangan lengkap tentang lomba ini dapat dilihat pada laman (web site) www.jilfest.org.
Jakarta, 5 September 2008
PANITIA PELAKSANA
Jakarta International Literary Festival (JILFEST) 2008 (Festival Sastra Jakarta
Lomba Menulis Cerpen Berlatar Jakarta
Kerja Sama:
Komunitas Sastra Indonesia (KSI)
Komunitas Cerpen Indonesia (KCI)
Dinas Kebudayaan dan Permuseuman
Provinsi DKI Jakarta
Deadline: 10 November 2008
Label: Info Lomba
"Storytelling Competition"
0 komentar Diposkan oleh Novi Reandy Sasmita di Wednesday, October 22, 2008Waktu Penyelenggaraan: 8 November 2008
Perpustakaan Umum LIA kembali akan menyelenggarakan "Storytelling Competition"
untuk tingkat SD & SMP se JABODETABEK
Tema : "Indonesian favorite stories" Fables, Legends, Folktales
Diselenggarakan : SABTU, 8 November 2008
Jam : 09:00 – selesai
Tempat : Auditorium LIA Pramuka & Perpustakaan Umum LIA, Jl. Pramuka Kav.30 Jakarta 13120
Registrasi : Rp. 30.000
Hadiah: Uang, Trophy, Goody Bag, Piagam
Informasi & Pendaftaran:
Perpustakaan Umum LIA
Jl. Pramuka Kav. 30 Jakarta Timur 13120
Telp. 021 8583241 Fax. 021-8506185
Contact Person:
• Yudhi 0813 1712 5111
• Suryadi 0812 813 4682
Label: Info Lomba
Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.
1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.
2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
3. D I A M
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan memarahinya.
4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, “Kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.
6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf), adalah kado cinta yang sering terlupakan.
7. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah” Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi? []
Label: Artikel